Showing posts with label Rindu. Show all posts
Showing posts with label Rindu. Show all posts

Monday, September 9, 2019

Kita

Kita adalah klausa,
Yang berpijak pada kaki gunung,
Sembari bermain genang air yang bening,
Berusaha tuk saling menggenggam,
Agar tak bubar.

Dan,
Tak hanya langit yang dapat mendekap hujan,
Jari-jari juga bisa menggenggam sudut pelangi yang pudar,
Agar tak saling tinggal.
Namun semua tersimpan dihalaman terakhir,
Bersemayam dingin pada sudut waktu,
Menjadi sukar tak mengalir,
Terhambat definisi perpisahan
Dan perlahan beku tak tertahan.
Apakah kau sadar ?
Tentang radar yang menunjukkan jalan setapak dipenghujung sore,
Tentang sebelah telapak tangan, yang menunggu ketidak jelasan hilang,
Tentang seekor kelinci liar, yang menanti fajar ? itu aku.
Kau harus tau,
Bahwa,
Hidupku abu,
Pagiku sendu,
Hatiku? Rindu
Pada angin yang menyapa panuh rasa,
Lalu pergi menyisakan luka sementara
Dengan sedikit butir rasa cemburu yang mejelma seperti debu
Perlahan tapi pasti membunuh dengan isak.
Share:

Friday, August 30, 2019

Paradigma Manusia bg.2


Setelah kembali dari warung akupun menyerahkan sayur yang ku beli pada ibu. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi karena waktu sudah hampir maghrib.
“allahhuakbar allahhuakbar..”adzan maghrib berkumandang sayup merdu.
Aku bergegas menuju ruang sholat rumahku karena ayah ibu pasti telah menungguku disana.setelah sholat kami makan malam bersama di dapur sambil bercerita tentang sekolahku
“bagaimana sekolahmu hari ini”Tanya ayah
“cukup menyenangkkan”jawabku
Seketika kami diam karena tidak ada yang bertanya,saya menghabiskan makananku tanpa sekata pun keluar dari mulutku,setelah habis saya kembali kekamar meninggalkan ayah dan ibu yang masih makan di meja makan.saya masuk kekamar menutup dan menguncinya. Aku mengambil buku itu kembali dan berbaring di kasurku. Lembaran buku itu kembali ku buka satu persatu, kini bukan lagi tetesan air mata. Tetapi kini sudah menjadi deraian, aku terhenti pada sebuah halaman yang menunjukan sebuah foto yang membuatku teringat akan hal itu kembali. saat aku mencoba membalik lembar itu sesuatu terjatuh dari buku itu. Sebuah surat kecil yang sebelumnya tak pernah kulihat, dengan sedikit bercak darah pada kertas surat tersebut. aku  menyapu air mataku dan mulai membaca perlahan surat itu. Saat aku akan memulai membaca surat itu, tiba-tiba ibu mengetuk pintu dan memanggilku. Aku membuka pintu tersenyum simpul pada ibu dan mengajak ibu masuk. Aku mengambil buku itu dan surat itu lalu ku serahkan pada ibu sambil tersenyum simpul.
“oh. kmu menemukan buku yg ibu ingin buang pada saat itu” kata ibu sambil tersenyum simpul.
“kenapa ibu mau buang buku itu”Tanya ku.
Ibu keluar dari kamarku seraya berkata
“tidurlah nak besok kmu akan sekolah”kata ibu sambil keluar kamar dan menutup pintuku.
Share:

Thursday, August 29, 2019

Paradima Manusia 1

Setiap paradigma manusia memiliki hati untuk merasakan apa yang sebenarnya ada dalam heningnya sebuah kisah. Tuhan begitu berkuasa ketika menciptakan setiap manusia dengan segala perbedaan. Dengan segala rasa yang abstrak berada dalam nurani setiap manusia. Tidak semua rasa itu menjadi sesuatu yang nyata, tidak semua rasa itu harus meluruh dan melebur menjadi satu. Kini aku hanya bisa terdiam meratapi tiap lembar di buku ini. Mencoba mengingat tentang sebuah kisah yang telah terjadi bagai tragedi yang penuh misteri hingga kini.
“Mengapa semua ini terjadi secara tiba-tiba” gumamku dalam hati.
“saya tidak sanggup untuk mengingat semua ini,rasa sakit ini,dan yang terjadi pada hari itu” gumamku sambil menahan air mata
Akupun merasa orang paling sial yang ada di dunia ini jika aku mengingat hal itu, tak tahu mengapa itu bisa terjadi tapi jika di ingat itu semua terasa terulang kembali secara nyata tetapi itu sebuah ilusi sederhana dari ratapan fana sebuah buku usang yang kini ku genggam.
“Intaann.. sini nak” ibu memanggilku membuyarkan lamunanku.
“Iya bu” saya mendatangi ibu sambil mngusap air mataku.
“ada apa bu??”Tanya ku pada ibu.
“bisakah kamu membelikan ibu sayur di warung pak mamat untuk makan malam”jawab ibu.
“iyh bu”kata ku.
Saya menerima uang yg di berikan ibuku sebesar RP. 50.000, saat di jalan saya tidak sengaja bertemu dengan teman sebelah gang rumahku.
“hi,apa kabar?” tanyaku.
“baik,bagaimana denganmu?”Tanya-nya.
“saya juga baik” jawabku.
“mau ke mana?”Tanya-nya lagi.
“ke warung pak mamat beli sayur buat makan malam”jawabku.
“ok kalo begitu saya duluan,soalnya buru-buru” katanya sambil berlari pulang.
“ok,hati-hati di jalan” kataku.
Kami berpisah dekat warung pak mamat,saat sampai di warung pak mamat
“pak beli sayur”kataku.
“sayur apa?”Tanya pak mamat.
“hmmmm”pikirku.
“tunggu pak saya pulang dulu menanyakan pada ibu”kataku
Saya berjalan pulang,saat sampai di rumah. akupun bertanya kepada ibuku sayur apa yang ingin dibeli.
“Bu sayur apa yang ingin ibu masak” aku berteriak dari ruang tamu
“terserah kamu intan kamu ingin makan apa malam ini” teriak ibu dari arah dapur, membuatku geram karena harus jalan kembali ke warung pak mamat.
Share: