Tuesday, November 12, 2019

Aku adalah Kau mu

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu


aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu
aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu
aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Share:

Monday, September 9, 2019

Kita

Kita adalah klausa,
Yang berpijak pada kaki gunung,
Sembari bermain genang air yang bening,
Berusaha tuk saling menggenggam,
Agar tak bubar.

Dan,
Tak hanya langit yang dapat mendekap hujan,
Jari-jari juga bisa menggenggam sudut pelangi yang pudar,
Agar tak saling tinggal.
Namun semua tersimpan dihalaman terakhir,
Bersemayam dingin pada sudut waktu,
Menjadi sukar tak mengalir,
Terhambat definisi perpisahan
Dan perlahan beku tak tertahan.
Apakah kau sadar ?
Tentang radar yang menunjukkan jalan setapak dipenghujung sore,
Tentang sebelah telapak tangan, yang menunggu ketidak jelasan hilang,
Tentang seekor kelinci liar, yang menanti fajar ? itu aku.
Kau harus tau,
Bahwa,
Hidupku abu,
Pagiku sendu,
Hatiku? Rindu
Pada angin yang menyapa panuh rasa,
Lalu pergi menyisakan luka sementara
Dengan sedikit butir rasa cemburu yang mejelma seperti debu
Perlahan tapi pasti membunuh dengan isak.
Share:

Friday, August 30, 2019

Paradigma Manusia bg.2


Setelah kembali dari warung akupun menyerahkan sayur yang ku beli pada ibu. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi karena waktu sudah hampir maghrib.
“allahhuakbar allahhuakbar..”adzan maghrib berkumandang sayup merdu.
Aku bergegas menuju ruang sholat rumahku karena ayah ibu pasti telah menungguku disana.setelah sholat kami makan malam bersama di dapur sambil bercerita tentang sekolahku
“bagaimana sekolahmu hari ini”Tanya ayah
“cukup menyenangkkan”jawabku
Seketika kami diam karena tidak ada yang bertanya,saya menghabiskan makananku tanpa sekata pun keluar dari mulutku,setelah habis saya kembali kekamar meninggalkan ayah dan ibu yang masih makan di meja makan.saya masuk kekamar menutup dan menguncinya. Aku mengambil buku itu kembali dan berbaring di kasurku. Lembaran buku itu kembali ku buka satu persatu, kini bukan lagi tetesan air mata. Tetapi kini sudah menjadi deraian, aku terhenti pada sebuah halaman yang menunjukan sebuah foto yang membuatku teringat akan hal itu kembali. saat aku mencoba membalik lembar itu sesuatu terjatuh dari buku itu. Sebuah surat kecil yang sebelumnya tak pernah kulihat, dengan sedikit bercak darah pada kertas surat tersebut. aku  menyapu air mataku dan mulai membaca perlahan surat itu. Saat aku akan memulai membaca surat itu, tiba-tiba ibu mengetuk pintu dan memanggilku. Aku membuka pintu tersenyum simpul pada ibu dan mengajak ibu masuk. Aku mengambil buku itu dan surat itu lalu ku serahkan pada ibu sambil tersenyum simpul.
“oh. kmu menemukan buku yg ibu ingin buang pada saat itu” kata ibu sambil tersenyum simpul.
“kenapa ibu mau buang buku itu”Tanya ku.
Ibu keluar dari kamarku seraya berkata
“tidurlah nak besok kmu akan sekolah”kata ibu sambil keluar kamar dan menutup pintuku.
Share:

Thursday, August 29, 2019

Paradima Manusia 1

Setiap paradigma manusia memiliki hati untuk merasakan apa yang sebenarnya ada dalam heningnya sebuah kisah. Tuhan begitu berkuasa ketika menciptakan setiap manusia dengan segala perbedaan. Dengan segala rasa yang abstrak berada dalam nurani setiap manusia. Tidak semua rasa itu menjadi sesuatu yang nyata, tidak semua rasa itu harus meluruh dan melebur menjadi satu. Kini aku hanya bisa terdiam meratapi tiap lembar di buku ini. Mencoba mengingat tentang sebuah kisah yang telah terjadi bagai tragedi yang penuh misteri hingga kini.
“Mengapa semua ini terjadi secara tiba-tiba” gumamku dalam hati.
“saya tidak sanggup untuk mengingat semua ini,rasa sakit ini,dan yang terjadi pada hari itu” gumamku sambil menahan air mata
Akupun merasa orang paling sial yang ada di dunia ini jika aku mengingat hal itu, tak tahu mengapa itu bisa terjadi tapi jika di ingat itu semua terasa terulang kembali secara nyata tetapi itu sebuah ilusi sederhana dari ratapan fana sebuah buku usang yang kini ku genggam.
“Intaann.. sini nak” ibu memanggilku membuyarkan lamunanku.
“Iya bu” saya mendatangi ibu sambil mngusap air mataku.
“ada apa bu??”Tanya ku pada ibu.
“bisakah kamu membelikan ibu sayur di warung pak mamat untuk makan malam”jawab ibu.
“iyh bu”kata ku.
Saya menerima uang yg di berikan ibuku sebesar RP. 50.000, saat di jalan saya tidak sengaja bertemu dengan teman sebelah gang rumahku.
“hi,apa kabar?” tanyaku.
“baik,bagaimana denganmu?”Tanya-nya.
“saya juga baik” jawabku.
“mau ke mana?”Tanya-nya lagi.
“ke warung pak mamat beli sayur buat makan malam”jawabku.
“ok kalo begitu saya duluan,soalnya buru-buru” katanya sambil berlari pulang.
“ok,hati-hati di jalan” kataku.
Kami berpisah dekat warung pak mamat,saat sampai di warung pak mamat
“pak beli sayur”kataku.
“sayur apa?”Tanya pak mamat.
“hmmmm”pikirku.
“tunggu pak saya pulang dulu menanyakan pada ibu”kataku
Saya berjalan pulang,saat sampai di rumah. akupun bertanya kepada ibuku sayur apa yang ingin dibeli.
“Bu sayur apa yang ingin ibu masak” aku berteriak dari ruang tamu
“terserah kamu intan kamu ingin makan apa malam ini” teriak ibu dari arah dapur, membuatku geram karena harus jalan kembali ke warung pak mamat.
Share:

Tuesday, August 27, 2019

MENDUNG

ada apa dengan mendung?

Mendung.. Kau menghantarkan diriku pada hujan yang ku nantikan.. Kau menghantarkan diriku pada kenyataan bahwa sebuah anggapan tidak selalu perlu dibenarkan.. Mendung tak berarti hujan.. Seperti itulah dirinya saat ini raganya bersamaku namun jiwa dan hatinya entah untuk dan milik siapa.. Mendung aku merindukan hujanmu unruk menghujamku agar saat ku menangis tak ada satupun yang tahu.. Mendung kali ini aku harap kau bersama dengan hujanmu
Mendung di langit hati, gerilya awan memapah rindu, aroma sunyi menyeruak di antara desau bayu, adakah nyeri akan menghunjamkan ribuan gigil pada tanah basah yang kehilangan jejakmu?
Mendung di ufuk matamu menuai deraian lara. Di antara biru asa yang mengabu tersimpat beribu kecewa. Biarlah tetesan luka perlahan membasahi hatimu, kelak ia kan melahirkan rerimbunan suka dan cita yang dipupuk oleh ganti penghuni nan setia.  Mendung tak selalu turun hujan, begitu juga dengan dikau yang tak pernah sadar betapa dalam perasaanku yang kau porak porandakan atas gerilya juang masalalu kita dulu...jangan pulang sebelum hujan datang tetaplah tinggal dan bersinggah bersamaku menikmati mendung masalalu kita yang abu.Mendung menitipkan sebuah rindu . rindu akan hal yang sangat menyakitkan. Lalu lalang berjalan berputar putar mengelilingi pikiran dan terus saja begitu. Terus menghantui apa pun yang terus saja berjalan.Mendung yang enggan beranjak pergi meninggalkanku yang terduduk diam kaku disudut sepi kamar ini. Menghitung rintik hujan yang jatuh basahi bumi. Mendengarkan setiap ritme dari tetesan air yang mengalir disela-sela dedaunan nan rimbun. Seakan mengerti dan mewakili hatiku yang sedang bercengkerama dengan waktu perihal dirimu yang tak lagi disampingku
Share:

Wednesday, June 12, 2019

Kritik Negriku 2

Pagi ini menyambutku dengan hujannya
menyapaku dengan terpaan sepoi anginnya 

hai semuanya pagi ini membuatku terdiam tanpa kata;)

Aku duduk dibalkon rumahku sembari menggenggam handphone melihat postingan dari berbagai akun di sosial media. awalnya semua terlihat seperti biasanya, namun aku melihat sebuah postingan tentang sebuah perdebatan. aku pikir perdebatan itu telah usai sama seperti tahun-tahun seblumnya,
Namun aku salah, Negri ini telah bangkit Penduduk negri ini beranjak dewasa seperti negri ini yang mulai menunjukkan sisi kedewasaannya.
namun tidak semua bisa bersikap dewasa seperti ummurnya, ada saja mereka yanng bersikap layaknya seorang anak kecil yang mempertahankan mainan yang entah itu milik siapa.
mulai dari hal kecil hingga besar negri ini perdebatkan, seolah setiap hal yang berbeda itu adalah ajang untuk menjatuhkan meremehkan merendahkan bahkan menghancurkan satu dengan lainnya. 
Entah darimana pemahaman itu mereka dapatkan, entah darimana pelajaran itu mereka pelajari, yang kutau negri ini mulai kandas dengan hal itu. aku bangga karena negri ini menjadi salah satu macan besar asia, aku pikir hal itu bakal membuat negri ini bangga. Namun aku kembali salah. tak ada satu mediapun yang mampu membuat berita itu tersebar ke penjuru negri ini. tetapi perdebatan konyol yang ada di kolom komentarlah yanng mernjak naik. aku tahu negri ini pintar aku tahu itu dan aku bangga akan hal itu. Tapi apakah hanya aku? aku yakin kalian juga sama kalian bangga dengan negri ini, dan kalian juga sangat ingin mengkritik negri ini.
aku tahu tak akan banyak yang melihat kritikku tapi aku yakin ada banyak yang sejalan dengan kritikku, negri ini hebat tapi tidak kuat. Negri ini Pintar tapi tidak cerdas. Negri ini beragam tapi tidak satu.
Entah kisah apalagi dihari ini dan entah apalagi yang akan kutulis nanti.  :)

Share:

Sunday, March 24, 2019

Kritik Negriku

Hum..
Apakah boleh negri ini dikritik oleh anak kecil?
Apakah boleh negri ini mendapat saran dari seorang anak kecil?

Pertanyaan itu terus muncul di benakku saat aku melihat bobroknya negri ini. Negri yang telah merdeka lebih dari 70 tahun dan akan mendapatkan bonus terbesarnya kisaran 5-10 tahun ini tapi mengapa negri ini menjadi kacau balau. Disatu sisi negri ini memiliki segudang prestasi baru tetapi disisi lain negri ini menampakkan keburukannya begitu besar. Aku tidak akan membahas tentang isu demokrasi tapi aku akan membahas isu Demografi negri ini. Ya, Demografi sebuah bonus besar yang akan negri ini dapatkan yang akan negri ini klaim beberapa tahun lagi. Pertanyaannya apakah negri ini bisa memanfaatkan bonus itu seperti negara lain memanfaatkannya? ataukah negri ini akan kehilangan bonus ini untuk sebagian rakyatnya?, atau malah negri ini akan kehilangan itu sepenuhnya.? Entah apa yang akan terjadi tapi aku selalu berharap terbaik untuk negri ini.
Sebagai Orang yang akan ikut serta pada bagian bonus tersebut aku harap negri ini bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, Semoga mereka yang ikut  juga di dalam bonus ini akan mempersiapkan diri mereka untuk membangun negri ini. sudah cukup moral negri ini bobrok sudah cukup ekosistem negri ini dirusak. sekarang saatnya kita mengangkat negri ini saatnya kita memperkenalkan negri ini di bumi yang luas ini. Aku bangga berada di negri ini aku bangga hidup di dua jenis generasi entah bagaimana orang" itu mengkotakkan generasi-generasi ini. Aku pernah berada dimana masa transisi generasi dan sekarang aku berada di akhir transisi. Kita tinggal menunggu slide selanjutnya dari negri ini. Tak ada lagi yang merusak  moral negri ini dan tak ada lagi yang menghancurkan ekosistem negri ini.
Laksana mentari yang menyinari bumi ini bumi butuh awan untuk memfilter dirinya
dan selayaknya itupula negri ini berada hujan demografi harus di filter dengan matang agar sampai dengan bias yang cemerlang. :)
Share: