Thursday, August 29, 2019

Paradima Manusia 1

Setiap paradigma manusia memiliki hati untuk merasakan apa yang sebenarnya ada dalam heningnya sebuah kisah. Tuhan begitu berkuasa ketika menciptakan setiap manusia dengan segala perbedaan. Dengan segala rasa yang abstrak berada dalam nurani setiap manusia. Tidak semua rasa itu menjadi sesuatu yang nyata, tidak semua rasa itu harus meluruh dan melebur menjadi satu. Kini aku hanya bisa terdiam meratapi tiap lembar di buku ini. Mencoba mengingat tentang sebuah kisah yang telah terjadi bagai tragedi yang penuh misteri hingga kini.
“Mengapa semua ini terjadi secara tiba-tiba” gumamku dalam hati.
“saya tidak sanggup untuk mengingat semua ini,rasa sakit ini,dan yang terjadi pada hari itu” gumamku sambil menahan air mata
Akupun merasa orang paling sial yang ada di dunia ini jika aku mengingat hal itu, tak tahu mengapa itu bisa terjadi tapi jika di ingat itu semua terasa terulang kembali secara nyata tetapi itu sebuah ilusi sederhana dari ratapan fana sebuah buku usang yang kini ku genggam.
“Intaann.. sini nak” ibu memanggilku membuyarkan lamunanku.
“Iya bu” saya mendatangi ibu sambil mngusap air mataku.
“ada apa bu??”Tanya ku pada ibu.
“bisakah kamu membelikan ibu sayur di warung pak mamat untuk makan malam”jawab ibu.
“iyh bu”kata ku.
Saya menerima uang yg di berikan ibuku sebesar RP. 50.000, saat di jalan saya tidak sengaja bertemu dengan teman sebelah gang rumahku.
“hi,apa kabar?” tanyaku.
“baik,bagaimana denganmu?”Tanya-nya.
“saya juga baik” jawabku.
“mau ke mana?”Tanya-nya lagi.
“ke warung pak mamat beli sayur buat makan malam”jawabku.
“ok kalo begitu saya duluan,soalnya buru-buru” katanya sambil berlari pulang.
“ok,hati-hati di jalan” kataku.
Kami berpisah dekat warung pak mamat,saat sampai di warung pak mamat
“pak beli sayur”kataku.
“sayur apa?”Tanya pak mamat.
“hmmmm”pikirku.
“tunggu pak saya pulang dulu menanyakan pada ibu”kataku
Saya berjalan pulang,saat sampai di rumah. akupun bertanya kepada ibuku sayur apa yang ingin dibeli.
“Bu sayur apa yang ingin ibu masak” aku berteriak dari ruang tamu
“terserah kamu intan kamu ingin makan apa malam ini” teriak ibu dari arah dapur, membuatku geram karena harus jalan kembali ke warung pak mamat.
Share:

0 comments:

Post a Comment